Pecundang…

Desember 29, 2007

Aku terbangun dari mimpi burukku
Peluh mengalir darisisi wajahku
Masih terasa keras degup jantungku
Mengiringi rasa lemas di seluruh tubuhku

Aku terus mencoba mengingat mimpiku
Apa yang membuatku seperti ini?
Ah, aku ingat sekarang, setiap detik dari mimpiku
Dalam mimpiku, aku ada dalam suasana yang kelabu

“PECUNDANG!”, teriak orang yang kulihat dalam cermin
Tunggu… bukankah harusnya diriku sendiri yang kulihat dalam cermin?
Apakah itu berarti aku mengakui diriku pecundang?
Hmmm… Mungkin lebih baik aku bermimpi lagi…

Maka aku pun memejamkan mata, dan kembali bermimpi
“PECUNDANG!”, teriak orang yang kulihat dalam cermin
“Hei, aku sudah melihat mimpi ini!”, kataku.
Sekitarku berubah cerah, aku ada di bawah di langit biru

Hei aku kenal wajah itu, itu temanku dari kecil
“Hai!”, sapaku, “apa kabar?”
Dia berbalik, lalu  berkata : “Baik, pecundang”
“AKU BUKAN PECUNDANG!”, teriakku

Lalu gelap menyelimutiku…
Aku terbangun, lebih lelah dari tadi…
Peluhku semakin deras…
Aku bangun dan bercermin…

Ketika aku bercermin, dari mulutku terucap “Pecundang…”
“BUKAN!!!” ,teriak sosok yang kulihat di cermin
“HAHAHA!!! Sekarang kau tahu rasanya dianggap pecundang!”, tawaku
Dia marah… Geram… Lalu tertawa…

Tawanya tergelak… Alangkah puas wajahnya…
“Seorang pecundang bodoh mengatakan bayangannya sendiri sebagai pecundang!!”, ujarnya dalam tawa
Aku terdiam… “bodoh”, kataku…
Bahkan ketika aku melihat diriku sendiri, aku mengucapkan kata PECUNDANG

Jauh dalam hatiku, aku mengakui diriku pecundang
Sesuatu yang bahkan orang terbodoh di dunia pun takkan pernah mau
Lalu aku terhenyak, terbangun, cuma mimpi rupanya…
Di sekitarku, ribuan cermin tergantung, dan semua sosok dalam cermin berteriak

“PECUNDANG!!!!”

Rintihan Sang Penurut

Desember 18, 2007

Mungkin lebih baik bagiku untuk selalu berada di bawah kelamnya malam
Berada di terik siang terlalu menyakitkan untukku
Panas mentari, pantulan cahayanya, dan gemuruh suasana, semuanya…
Silau, Perih, PANAS!

Semua orang di sekitarku menginginkanku mendengar
tanpa mengetahui seberapa inginnya aku didengar
Semua orang di sekitarku menginginkan didengar
tanpa pernah mencoba lelahnya mendengar

Dari semua yang pernah kukenal,TIDAK ADA orang yang bisa mengerti aku
Aku sadar, aku memang tidak biasa
Bukan banyak kelebihan, tetapi justru penuh kekurangan
tapi apakah itu suatu alasan?

Apakah itu suatu alasan untuk membenciku?
Apakah itu suatu alasan untuk mencaciku?
Apakah itu suatu alasan untuk menghinaku?
Apakah itu suatu alasan untuk menekanku?

Yang mereka lihat, aku selalu tersenyum
Yang mereka lihat, aku selalu tertawa
Yang mereka lihat, aku selalu ceria
Tapi tahukah mereka?

Di balik setiap senyumku, AKU MENANGIS
Di balik setiap tawaku, AKU MERINTIH
Di balik ceriaku, AKU SEDIH
Pernahkah mereka mencoba mengerti aku?

Adakah satu dari mereka yang bertanya “Apa yang kau inginkan?”
Atau mungkin berkata menenangkan “Tenang, ada aku di sini”
Yang ada hanyalah paksaan berbalut manisnya permohonan
Atau tekanan berselimutkan kata-kata yang terdengar apik di telinga

Sedemikian jahatnyakah aku sehingga aku tak pantas dicintai?
Sedemikian rendahnyakah aku sehingga aku tak pantas, bahkan untuk mencintai?
Semua hal menyerang aku, semua memberangus ke arahku
Benci aku, hina aku, acuhkan aku selalu… bila itu yang terbaik…

Dwika Putra
18.12.07

Senyuman dalam Cobaan

Desember 15, 2007

Menyusuri garis pantai
Di bawah sejuknya sapuan sang mentari pagi
Dan menapaki halusnya pasir putih
Mendengar gemuruh ombak berkejaran

Langit pagi nampak begitu indah
Burung camar terbang melayang
Anak-anak berenang senang
Para nelayan beranjak pulang

Embun bahkan belum kering
Ketika kulihat seorang anak tersenyum diam di pinggir
Aku mendekat dan bertanya
Di mana gerangan rumahnya

“Habis disapu gelombang pasang”, jawabnya lirih
Di mana orangtuanya, aku bertanya
“Di langit”, katanya, “Mengawasi aku dengan tawa”
Aku terkejut dan berjengit

Anak sekecil ini, sudah menerima cobaan seberat itu
Anak sekecil ini, sudah harus sendiri melawan kerasnya hidup
Tanpa kusadari,raut wajahku telah berubah sedih
Dia berkata “Mengapa kakak sedih?”

“Aku sedih memikirkan kerasnya harimu”, kataku
“Mengapa harus sedih? Aku tidak sedikit pun sedih”,jawabnya dengan tawa
“Tidakkah engkau sedih tanpa rumah? tanpa orang tua?”, tanyaku setengah berteriak
“Tidak!” , Jawabnya cepat dan tenang diiringi senyum

Aku malu dengan diriku sendiri…
Membayangkan aku yang sedih karena kehilangan hal yang kecil
Tapi anak sekecil itu malah kuat dan tegar menghadapi cobaan
Kehilangan hal-hal yang paling berarti dalam hidupnya

Senyum memang hanya sebuah garis lengkung di bibir
Senyum memang hanya ekspresi wajah semata
Senyum tidak lebih dari gerakan ringan otot-otot wajah
dan Senyum tidak lebih dari hal yang semua orang bisa

Tapi senyum dapat menghapus duka
Senyum dapat membasuh luka
Senyum dapat menenangkan jiwa
sekaligus dapat menentramkan dunia

Senyum membuat orang lain tersenyum
Senyum membuat orang lain tertawa
Tidak tersenyum menghilangkan senyum dari semua orang
Maka, tersenyumlah…

Dwika Putra
15.12.07

Love?

Desember 14, 2007

Life is a journey
It has a start, and also an end
Love is a journey
So it has a start, and also an end

Life is like a chessboard
It has black boxes of sadness, also white boxes of happiness
Love is like a chessboard
So it also has black boxes of sadness and white boxes of happiness

So what is the different between life and love?
No difference? Then i disagree with you…
In life, we can win even if it ended
In love, we can lose even if it hasn’t started

In life, the winner takes all, the loser loses nothing
In love, the loser loses all, the winner gets nothing
In life, a winner can win after losing
In love, a winner can lose more after winning

Love is not easy to be spoken
not hard to be shown
not possible to be taken away
but always open to be shared

Everybody can love
Everybody needs love
Everybody loves love
So love is needed to love itself

So, what is love?

Dwika Putra
14.12.07

TeLOVEision

Desember 14, 2007

I turned on the television
And watched a cartoon movie, a fairytale
It started with “Once upon a time…”
And ended with “Happily ever after…”

I changed the channel
And watched an evergreen drama
The man and woman fight each other at first
And loved each other as the credit rolls

I turned it off, feeling sorry for myself
I keep on asking myself, “is it because of me?”
I know i am not the best to be loved
But does that means i deserve no love?

I know sorry is the hardest word
But love isn’t that easy
I found it hurt to be left by the one i love
But what hurt me more is leaving the one i love

Knowing that she is okay, is enough for me
But does she think the same way of me?
I know leaving her is not the best way
Since it kills the chance that she might loves me too

Must i keep on loving her,
and waited until the star falls from the sky,
so i can give her a star to hold onto,
so that she won’t forget me forever?

Well, i won’t be getting the answer
as long as i keep on resting my head upon my hand
or holding my left hand with my right hand, to stop my shiver
but that’s all i can do now

I know loving isn’t easy
But being loved is even harder
Also, being a lover is easy
But being a loveless is even easier…

Dwika Putra
14.12.07

Friends

Desember 14, 2007

Friend will be friends…

No matter what they take, Friends are friends…

For now until forever…

Not even a single bullet Can make friends apart…

Not even a thousand comets can make friends hates each other…

A lot of soldiers will pass us by… But, can we still be friends?

A thousand nights will pass away… But, can we still be friends?

So deep inside my heart… I am always ready to answer ‘Yes’…

But now, when I am the one who asked… I hope you will say ‘Yes’…

Even if the earth stopped rotating…

Or the sun stopped shining…

I hope we can still be friends…

All the days we have… Must be engraved in gold ink within your heart…

All the bad things I’ve done… Write it! And say to me, so I can make it better…

Friends will never die…

Now, aren’t we friends?

(puisi ini gw tulis 2 tahun yang lalu, waktu salah satu temen gw di karantina pelatihan olimpiade musti dinyatain ga lulus dan kluar dari karantina… wakkaka… jadi lupa tanggalnya)

Dwika Putra
xx.xx.05

When I Woke Up This Morning

Desember 14, 2007

 

When i woke up this morning…
I picked up my cell phone…
Hoping there was a message from you…
But the only thing on the screen is my picture…

I know this means it…
Not even a single part of your love is going to be mine…
I keep on asking to God, in a desperate mood…
“Why?! Why can’t i?! Why don’t You show the sign before?!”

Then i cried myself to sleep…
Then i woke up for the second time in this morning…
And i realize something…
Something that triggers my blind mind back into life…

The signs are everywhere…
Everything around me shows only one thing…
You are not mine…
And will never be mine…

The uncertainty is so certain…
My doubt is so absolute…
Even the whitest seems so black to me…
Near is just so far…

Everything full will be empty one day…
And everything empty will be full…
Even the most empty thing is so full…
It is full of emptiness…

Everything that have a start, will absolutely have an end…
Anything that end, must have a start preceding it…
But there is something going on now…
I haven’t started this, but it already ended…

Maybe this is just my own thinking…
No prove but only point of view…
Life is not as beautiful as before…
But before this even happened, life is not so beautiful…

But now this opened my eyes…
Even though i made no decision…
This is already decided…
But not yet finished…

(PS: confused with this? haha… i made this absent-minded… maybe too hard to understand… haha)

Dwika Putra
13.12.07

Arti Seorang Ibu

Desember 14, 2007

Arti seorang ibu

Ibu…
Ketika ku terjaga dari tidur malamku…
Kulihat engkau masih tertidur membisu…

Pandanganku tertumbuk pada wajahmu…
Mungkin engkau tiada seayu dulu…
Tetapi raut wajahmu tetap tenangkan kalbu…

Banyak rambut yang memutih di kepalamu…
mungkin karena kesedihan akibatku…
akibat segala tindak bodohku…

Kerut-kerut di wajahmu…
mungkin karena engkau terus memikirkan aku…
terkadang sampai lupa memikirkan dirimu…

Bila kuingat, betapa bodohnya aku…
Melawanmu, paksakan kehendakku…
Tetapi akhirnya mencelakai diriku…

Aku melawan bila kau marahi aku…
Tapi aku tahu, di balik amarahmu…
Namaku selalu kau selipkan di doamu…

Aku benci jika kau melarangku…
Tapi aku tahu, apa tujuanmu…
yaitu menjaga dan melindungiku…

Aku selalu menceritakan banyak hal kepadamu…
tanpa bisa sedikitpun mendengar keluh kesahmu…
padahal aku tahu, lebih banyaklah lelahmu dariku…

Aku sering tidak ada ketika kau butuh aku…
tetapi aku selalu memintamu ada untuk aku…
betapa egois dan jahatnya aku!

Sekarang, ketika telah cukup dewasa aku…
aku masih saja sering mengesalkanmu…
dengan segala tingkah laku kekanakkanku…

Tapi aku berjanji, Ibu…
Ketika nanti tiba hari tuamu…
Aku akan selalu ada untukmu…

Dari segala kesibukanku, akan kusempatkan waktu untukmu…
Dari segala kepenatanku, izinkan aku berkeluh kepadamu…
Dari segala kebingunganku, izinkan aku mohon petunjuk padamu…

Mungkin, bahkan seribu kata maafku tidak cukup bagimu…
Berlaksa ampun kuhaturkan tak dapat membayar dosaku…
tetapi tetap, kumohon maaf padamu, ibu…

Hanya satu yang dapat kujanjikan kepadamu…
Bahwa suatu hari nanti aku akan berhasil untukmu…
Dan membuatmu tersenyum bangga karenaku..

Dwika Putra
23.04.07

Eksepsi

Desember 14, 2007

aku hanya bisa diam dan termangu

melihat dia pergi dan menjauh dariku

aku layaknya sang serangga malam

yang pasrah melihat bulan tenggelam

Jarak ragaku dan raganya

memang dapat kuhampakan segera

tapi jarak antara hati kami berdua

sama jauhnya seperti surga dan neraka

ragaku semakin rapuh

hatiku semakin luruh

perasaanku hampa tiada arti

seiring perginya sang mentari pagi

Haruskah aku menanti selaksa hari

berharap cinta itu kembali lagi?

atau haruskah aku membunuh rasa di hati

karena tahu cinta itu sungguh tiada lagi?

aku sadar ini hanyalah sebuah eksepsi

harapkan secercah sinar yang membasuh sayatan di hati

Dwika Putra
28.03.07

Konklusi

Desember 14, 2007

Sejuknya sapuan embun pagiTidak lagi kurasa berseri

Yang kurasakan hanyalah dingin nan sepi

Menusuk jantung, menohok hati

Mungkin ini adalah luka yang ditinggalkan sang peri

Yang pergi setelah mendapatkan sayapnya lagi

Pergi meninggalkan aku sendiri

Sejauh langit dari bumi, sejauh kanan dari kiri

Wangi embun pagi ini

membawa mataku pada manis parasnya lagi

Wangi embun pagi ini

membawa telingaku pada gelak tawanya lagi

Wangi embun pagi ini

membawaku pada sebuah imaji sarat konklusi

“dia bukan milikku lagi, cinta tak harus memiliki”

“cinta tercipta bukan untukku, dia bukan tuk kumiliki”

Dwika Putra

28.03.07